Monday, February 23, 2015

Mockingjay

If I could describe you into one thing, it would be a mockingjay

born to spread your wings and fly away
full of freedom, but also wisdom

fly through the mountains, stab the clouds
chase after rain and see every rainbow formed
perching every trees you've met
watch the sun rises and sets

never been caught
never been caged

never know that you're so easy to be loved


because you're always there in the height
never stops and never looked at me




wise man says it is a sin to kill a mockingjay
and now I know why

Sunday, February 22, 2015

Before it's all fade away

Papa taught me to be strong
to be grateful for everything that I've got
to appreciate things and people
to be careful before words slipped out of my mouth
to keep everything I have to keep
to do the right things before it goes to regret



before it's all fade away


Because you only need the light when it's burning low
only miss the sun when it starts to snow
only know you've been high when you feeling low
only know you love them when you let them go

And you let them go....

Friday, January 30, 2015

Halo

Halo.
It's been a long time for me to not typing anything here.

Hingga tak sadar bio-ku masih tertuliskan berusia 17 tahun, padahal sekarang aku sudah 19 tahun lebih 2 minggu.
Aku bahkan lupa email yang aku gunakan untuk blog ini.
Lupa font apa yang biasa ku gunakan.
Dan lupa kalau blog ini pernah menjadi tempatku berbagi hal positif.

And here I come.

Halo.

Satu tahun lebih aku menjadi mahasiswi.
And no no, kamu tidak akan melihat sisi cengeng diriku lagi.

I'm stronger than I've been before.

Satu tahun aku tidak menulis disini. Dan aku belajar banyak hal.
Belajar mengendalikan emosi, belajar untuk berjuang, belajar memaafkan, belajar bahwa membenci tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi menangis.
Belajar mencintai, belajar ikhlas, belajar melakukan segalanya dengan tulus, belajar bertahan dan teguh pada pendirian, belajar menjadi abnegation sekaligus dauntless, atau bahkan belajar menjadi divergent-menjadi kelima faksi tersebut.

Tapi diatas segalanya, aku sadar bahwa setahun ini aku belajar untuk hidup. Melanjutkan hidup dan menghadapinya, membuat segalanya berjalan lebih baik.

Hingga akhirnya aku dapat mengatakan kepada dunia bahwa dunia pantas memiliki aku, wanita muda yang patut dibanggakan.

Wednesday, September 25, 2013

Kangen :"

Aku kangen kamu. Orang yang merasa dirinya ganteng, yang suka nyanyi nggak jelas, yang suka rebutan bantal, yang suka main tembak-tembakan dan pedang-pedangan pake pipa paralon.

Aku kangen kamu. Orang yang suka ngaca benerin rambut, yang ngerasa badannya six pack, yang kalo pake parfum suka kebanyakan karna nggak ngerti dosisnya, yang suka guling-gulingan di karpet, berkhayal main perang-perangan, walau nggak ada lawannya.

Aku kangen kamu. Aku ingat teh manis yang kamu buat disaat aku sakit, aku ingat mainan "jepit-jepit berhadiah" yang kamu mainkan demi sebuah boneka gratis untukku. Boneka alien kecil warna pink.
Aku ingat tiket timezone yang semuanya kamu berikan untukku agar aku bisa menukarnya dengan barang apa pun yang aku inginkan, dan kamu hanya mengambil sisanya untuk ditukarkan dengan coklat kecil.
Kamu tidak suka beberapa jenis makanan, tapi jika diberi, kamu akan menyimpannya lalu diberikan padaku. Permen, minuman, dan makanan lainnya. Kamu selalu mengingatku. Dan akhirnya di rumah kamu bilang, "tuh ada sisa, buat kamu aja."
Aku ingat saat aku pamit untuk ikut Farewell Camp selama 2 hari, kamu bilang, "yaudah pergi aja sana!", pura-pura tidak peduli, tapi tanpa sadar kamu meremukkan botol air mineral kosong di tanganmu.
Aku ingat saat kamu pergi ke Bandung, dan ketika kamu pulang, kamu membawakan hadiah untukku, tempat tissue hello kitty berwarna pink. Dan kamu bilang, "ini buat kakak.."
Kamu terkadang tidak mengakui perhatianmu, tapi aku tau, kamu sering memilihkan barang untukku, memikirkanku, menanyakan kabarku, tanpa sepengetahuanku.

Iya, kamu. Kamu yang selalu menemani selama 15 tahun aku bernafas di dunia ini. Kamu, adik kecilku. Aku tau sih, ukuran badanmu memang bukan ukuran anak kecil lagi, bahkan sekarang kamu lebih tinggi dari aku. Sebuah takdir yang sering aku rutuki, tapi aku bersyukur, karena dengan fakta itulah aku tau kamu tumbuh dengan baik.

Bahkan hidungmu lebih mancung daripada hidungku. Kamu tampak seperti wayang berjalan; kurus, tinggi, dan mancung.

Aku ingat disaat aku tau kamu lahir. Aku yang memilihkan nama untukmu, walau saat itu aku tidak tau artinya, tapi aku senang mendengarnya. "Akbar".. Aku bersyukur tidak memberimu nama "Paijo" atau "Tukiyem". Aku bersyukur aku punya taste yang baik, meskipun aku juga masih kecil saat itu.

Aku ingat saat kecil, kita sering bertengkar. Adu cakar adu gigi bak Tom dan Jerry. Mungkin dulu kita terobsesi dengan kartun itu, sehingga saat bertengkarpun, kita mengahayati peran mereka.

Aku ingat saat aku duduk di bangku SD dan SMP, dan kamu pun masih kecil saat itu. Aku sering menganggapmu pengganggu. Kamu merusak barangku, melempar tasku, mengganggu disaat teman-temanku datang ke rumah, dan menjambak barbie-ku. Aku mengusirmu dari kamarku, mengunci pintunya agar kamu tidak masuk lagi. Dan kamu menangis di depan pintu, berharap aku membukanya lagi, tapi aku terlalu naif untuk menyadari kalau kamu kesepian dan ingin mengajakku bermain.

Aku ingat saat aku marah dan tidak berbicara satu kata pun padamu. Kamu berulang kali meminta maaf, dan akhirnya menangis. Kamu tidak peduli dengan statusmu sebagai laki-laki. Kamu menangis hanya demi sebuah maaf dariku.

Disaat kita tumbuh dewasa, kita mulai mengerti arti persaudaraan, kita belajar untuk saling menguatkan, dan saling menyayangi. Kita belajar untuk saling menghargai, bekerja-sama, dan kita melewati segalanya bersama. Tertawa, menangis, berteriak... Dan pada akhirnya kita akan bersikap seperti halnya skeleton, menopang dan menguatkan satu sama lain.

Aku tau aku pernah melewati masa-masa ini; selalu bersikap apatis, sering cuek, bahkan suka marah. Bilang kamu pengganggu, bilang dunia lebih indah tanpa kamu. Tapi sebenarnya, aku merana jika hidup tanpa kamu.

Aku sayang kamu, Dek. Aku kangen kamu. Aku membuang semua gengsiku untuk mengatakan ini padamu, betapa aku ingin bertemu kamu dan mencubit pipimu, menarik hidungmu, juga memencet perutmu. Psikopat. Tapi itulah caraku mengatakan padamu bahwa aku sangat menyayangimu, dan aku berani bertaruh, kamu tidak akan pernah menemukan orang yang se-spesial kakakmu ini di seluruh penjuru dunia :)


Kost Putri "Gana", Bantul, Yogyakarta
25 September 2013
20:45 WIB

Saturday, August 3, 2013

Dear doctors...

"Rekan sejawat yang terhormat,
Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda.
Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah
Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah Firaun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita atau pria. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,dik, mau diceritain dongeng nggak sama dokter?

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.

Yah, memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada

NB :
"Ini bukan provokasi untuk menjadi dokter miskin, bukan juga mengatakan bahwa dokter tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi lainnya. Tulisan ini hanya sekadar sebuah nasihat untuk diri sendiri dan rekan sejawat semua untuk meluruskan kembali niat kita dalam menjadi seorang dokter. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan kita. Dokter terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya. Namun saya yakin, jika ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati. Walaupun harus sendirian dalam memperjuangkannya, walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan. Saya yakin, Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Tidak akan pernah. "

dikutip dari
Aditya Putra Priyahita,
seseorang yang sangat merindukan sebuah reuni anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di surga nanti.


Terima kasih banyak dok atas segala pengabdian dan pesan anda untuk kami semua, Insya Allah saya dan rekan-rekan lainnya akan melanjutkan perjuangan anda. Semoga kita dapat bertemu di tempat dimana dokter tidak lagi diperlukan, di tempat bernama 'Surga'... 
  

Friday, May 24, 2013

One word . . . Alhamdulillah :')

Today is a moving day.
A moving day in two meanings. Yang pertama moving day yang saya ambil dari istilah untuk hari yang mengharukan, yang kedua untuk moving dari masa SMA menuju dunia kampus.

Moving day.
Pada pagi yang cerah ini (24/5/13), angkatan pertama SMAIT Insantama dinyatakan 100% LULUS! Alhamdulillah. Alhamdulillah. Satu kata yang belum bisa berhenti terucap dari bibir ini. Miracle happens. Allah memang menolong orang-orang yang berada di jalan kebenaran. Allah memang sangat sayang kepada kami semua :')

Pagi ini, pukul 08.00 WIB, SAGACIOUS berkumpul di aula SMPIT Insantama, ditemani dengan adik-adik kelas kami yang unyu-unyu, beberapa orang tua siswa, dan para guru, dengan perasaan tegang menunggu apakah kami dinyatakan lulus UN 2013 atau tidak. Saya memperhatikan sekitar, ada beberapa teman yang tertunduk dengan mulut komat-kamit membaca doa, ada yang ngobrol, ada yang saling berpegangan tangan (so sweeeeett), ada yang sibuk menghubungi orang tuanya, dan saya termasuk ke golongan orang yang sibuk foto-foto. Hehehe.

Sebelum pengumuman kelulusan, ada beberapa sambutan dan nasihat yang diberikan para guru kepada kami. Ada beberapa nasihat yang sangat membekas di benak saya.

Salah satu nasihat yang 'kena' sekali di hati saya adalah sebuah nasihat yang diucapkan ustd. Muhib sebelum kami menerima amplop kelulusan kami.
"Kalau hari ini kalian mendapat berita gembira, kalian sangat patut bersyukur. Yah mungkin ada sebagian dari kalian yang belum rajin taqarrub kepada Allah, masih belum ngapa-ngapain, tapi diberi hadiah yang sangat mengharukan. Istilahnya itu 'saya nggak ngapa-ngapain aja dapet hadiah seindah ini' nah, makanya kalian harus bersyukur dan mengazzamkan kepada diri kalian sendiri untuk lebih bertaqarrub lagi kepada Allah..."

Pembagian amplop terasa lama, rasa tidak sabar untuk membuka amplop itu semakin menjadi-jadi. Setelah semuanya mendapatkan amplopnya masing-masing, saya mulai membuka amplop dengan perlahan. Mata saya menjelajahi surat tersebut, hingga akhirnya menemukan tulisan LULUS dengan tulisan yang dibold itu. Alhamdulillah...
 
Dan hari ini, saya mendapat hadiah indah itu. Saya sudah resmi lulus dari SMA. Tidak akan ada lagi UN, tidak akan ada lagi 'seragam sekolah' yang kegedean dan membuat saya terlihat seperti orang-orangan sawah, dan status saya berganti dari 'pelajar' menjadi 'mahasiswa' (aamiiinn). 

Aaaaaaah.. Menyenangkan sekali hari ini. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Terima kasih Allah, semoga nikmat-Mu ini tidak membuat kami lupa bersyukur dan kufur, semoga nikmat-Mu ini membuat kami makin mendekatkan diri kepada-Mu. Aamiiinn :)

Saturday, May 11, 2013

A note from Ramadhan Surjoharso

Selamat pagi!
Setidaknya ini masih pagi saat saya mempost postingan ini :)

Hari ini saya akan sedikit berbagi kata-kata bijak dari sepupu saya, Ramadhan Surjoharso, yang sekarang sedang menempuh pendidikan S1-nya di Jerman.
Hampir satu tahun yang lalu, saya memintanya untuk mengajari saya bahasa Jerman. Saat itu saya tertarik untuk melanjutkan pendidikan saya disana, sebelum saya tahu bahwa pendidikan kedokteran disana hampir membunuh siswanya sendiri, artinya harus bekerja super duper extra keras untuk lulus dari universitas tersebut, belum lagi saya terancam tidak bisa kembali ke Indonesia karena susah untuk mendapat sertifikat izin praktek di Indonesia, belum lagi banyak jenis penyakit yang berbeda antara negara 4 musim dan 2 musim.

Saat itu, dia memberi saya sebuah pesan dalam bahasa Jerman.

"Dein Leben ist,was du immer gekämpft hast. Hebt man den Blick,sieht man keine Grenzen mehr."
"Hidup lo adalah apa yang telah lo perjuangin selama ini. Kalo kita selalu optimis & berusaha, kita ga akan pernah liat batas akhir."

"Hidup lo adalah apa yang telah lo perjuangin selama ini..." 
 
Kata-kata itu terus terngiang di kepala saya. Apa yang sudah saya perjuangkan untuk hidup saya? Sudahkah saya belajar dengan serius? Sudahkah saya berhenti mengeluh? Sudahkah saya melakukan aksi terbaik untuk cita-cita dan hidup saya?

Saya ingat saat liburan tahun lalu. Saya kebingungan untuk mencari hasil scan tanda tangan kepala sekolah saya untuk proposal LKMA. Akhirnya saya memutuskan untuk mengganggu sebentar sang ketua LKMA yang sedang beroperasi di lab sains sekolah. Dengan hati-hati saya mengetuk pintu dan memanggilnya. Pintu terbuka, dan saya sempat melihat ke dalam lab. Setelah selesai urusan kami, ia kembali melanjutkan penelitiannya. Dalam hati saya berkata : "subhanallah banget ini manusia, liburan gini masih aja di lab. nggak pengen liburan kali ya?" Tapi itulah perjuangan. Dan lihat sekarang, hasil kerjanya membuahkan hasil yang mencengangkan. Saat ini ia menginjakkan kakinya di Arizona, Amerika Serikat, untuk mewakili Indonesia dalam Intel ISEF, sebuah kompetisi dan wadah pertemuan untuk para peneliti muda dari seluruh dunia. Saya tersenyum. Inilah perjuangan. Inilah buah manis dari segala jerih payahnya. Subhanallah.

Saya teringat lagi pada satu cerita. Alanda Kariza, pencetus Indonesian Youth Conference yang sekarang telah meraup ribuan anak muda Indonesia yang mau bergerak dan berusaha untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Sebelumnya, Alanda yang saat itu masih berusia 15 tahun harus berusaha untuk mempersiapkan segalanya dan mencari anak-anak muda dari segala penjuru Indonesia yang peduli akan ekonomi, sosial, budaya, dan politik untuk bergabung dalam sebuah konferensi. Bayangkan, anak 15 tahun yang belum memiliki nama di hadapan publik berani untuk maju dan menggerakkan anak muda lainnya. 6 tahun telah berjalan IYC, dan konferensi ini sukses menggerakkan anak-anak muda Indonesia yang peduli dan mau berfikir, bahkan usahanya sekarang sudah Go International.

Banyak orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk sebuah ambisi, dan perjuangan tanpa letih rela mereka lakukan.

"Kalo kita selalu optimis & berusaha, kita ga akan pernah liat batas akhir..."

Usaha (Joule) adalah gaya (Newton) dikali dengan jarak (meter).
Usaha adalah berapa jumlah gaya/perjuangan yang sudah kamu lakukan dikali dengan berapa jarak yang sudah kamu tempuh untuk melakukan perjalanan dalam rangka mewujudkan cita-citamu.

Jika Colonel Sanders menyerah pada usahanya yang ke-1008 kali untuk memasarkan resep KFC-nya, pastilah restoran fast food yang terkenal itu tidak akan ada di dunia ini, karena ia berhasil membuat restorannya pada usahanya yang ke-1009.

Jika Steve Jobs menyerah saat ia didepak dari perusahaan Apple yang belum sukses, mungkin tidak akan ada Pixar dan perusahaan Apple yang sebesar sekarang ini.

Jika J.K Rowling menyerah pada usahanya yang beratus-ratus kali untuk menerbitkan buku Harry Potternya, pastilah hidupnya tidak akan sebahagia sekarang ini.

Dan jika kamu menyerah karena usahamu tidak kunjung membuahkan hasil, pastilah tidak ada kata "sukses" untukmu di masa depan. Segalanya butuh usaha, segalanya butuh perjuangan, segalanya butuh optimisme. Jika orang-orang diatas tidak memiliki rasa optimis dalam diri mereka, pastilah mereka hanya menjadi manusia yang tidak dilirik oleh dunia ini.

Percayalah, Allah hanya memiliki tiga jawaban untuk kita. "Ya", "Tidak sekarang", atau "Ada yang lebih baik". Ia tidak akan pernah mengatakan "Tidak" pada usaha yang kita lakukan. Bisa jadi kita langsung sukses pada usaha pertama kita. Bisa jadi kita sukses pada usaha kita yang kesekian kali, seperti salah seorang siswa Asia yang baru dapat menerima beasiswanya setelah tujuh kali mengajukan permohonan beasiswa di School of Arts and Music di Amerika Serikat. Dan bisa jadi juga ada hasil yang lebih baik daripada usaha kita yang berujung pada kegagalan. Ingatlah, selalu ada hikmah dari setiap kegagalan. Jadikanlah kegagalan itu sebuah awal dari kesuksesan.

Namun biar bagaimanapun, kamu harus berhati-hati dengan ambisimu. Jangan terlalu ambisius (atau saya biasa menyebutnya 'haus darah'), karena jika kamu terlalu ambisius dan tidak peduli dengan sekitarmu, suatu saat ambisimu itu sendiri yang akan membunuhmu.

Saya hanya sedikit berbagi. Semoga bermanfaat :)