Jadi inget waktu main ke rumah Salma Fadhilah, waktu itu dia nunjukkin bindernya yang isinya kenangan mereka waktu SD, sebelum pindah ke Malang. Ada foto-fotonya, ada tulisan-tulisannya, sampai ada yang gubah lagu segala. Ya ampun subhanallah banget keceriaan mereka, ketawa-ketawa aku bacainnya :DDD
Aku juga jadi inget waktu pertama masuk SMAIT Insantama, jadi angkatan pertama, anak-anak alumni SMPIT Insantama yang akhwat nunjukkin buku tahunannya, ngasih tau si 'ini' orangnya gimana, si 'itu' gimana, masa-masa SMP mereka gimana, si 'anu' suka sama siapa, dulu siapa yang suka berantem, dll. Hahaha.
Aku berfikir gimana kalo aku kenal mereka dari jaman SD, dari keciiiil bangeeeet. Pasti menyenangkan :)) Tapi yah, Allah punya rencana sendiri, aku baru dipertemukan dengan mereka di saat umurku 14 tahun, pertama kali masuk SMA. Dan aku yakin kok pertemuan itu pasti menggoreskan kenangan yang ga kalah indahnya :))
Di sela-sela album Bu Rani, aku tertegun melihat tiga buah judul. Yang pertama berjudul 'keceriaan terakhir', yang kedua berjudul 'yang tersisa', dan yang ketiga berjudul 'wildanummukholadun'. Ya, aku pernah mendengar tentangnya. Namanya Sarah Safira, dan aku yakin dia akan menjadi akhwat yang sangat taat dan shalihah, jika dia masih ada disini.
Sarah sebaya denganku, dan akan menjadi temanku saat ini, LDK bersama, LKMM bersama, LKMA bersama, jika dia masih ada disini.
Tertegun lagi aku saat melihat foto dirinya. Maniiiisssss sekaliiiii, lembuuuut sekali sinar wajahnya :)) Dan saat aku melihat foto yang satu ini, aku benar-benar tersenyum, sampai rasanya mataku panas, airmata sudah membendung disana.
Satu foto dirinya, dengan tulisan 'Sarah Safira PMS'...
Flashback.
Saat itu Qiraati, aku Qiraati bersama Bu Euis Masitoh. Beliau menceritakan sesuatu tentang Sarah, yang waktu itu aku hanya baru mendengar sedikit tentangnya. Saat itu aku hanya tau bahwa dirinya adalah anak kandung Bu Rani, kakak dari Khonsa, anak angkatan pertama SDIT Insantama, yang Allah memberikannya masa tugas di dunia yang singkat, namun memberikan berkas cahaya di setiap orang yang mengenalnya, dan aku tau temanku pernah menyukainya. Hanya itu yang aku tau.
Namun, cerita Bu Euis tentang dirinya membuat aku luluh. Aku memang mudah tersentuh, tapi dirinya... Berbeda.
Bu Euis menceritakan bagaimana Sarah di masa kecilnya.
B : Dulu, ada anak SDIT yang shalihah sekali, tapi dia sudah tidak ada disini.
A : Siapa bu? Kenapa dia tidak ada disini?
B : Namanya Sarah, anaknya subhanallah sekali. Dia anak dari Bu Rani, kakaknya Khonsa. Tapi Allah punya rencana lain, Sarah dipanggil duluan saat dia masih SD. Dulu, setiap dia menuliskan namanya, pasti ada kata 'PMS' di belakang namanya.
A : 'PMS' itu apa bu?
B : 'PMS' itu kepanjangan dari 'pingin masuk surga'..
A : ..... *sunyi*
B : Kenapa ajeng? Kok diem?
A : Subhanallah bu, saya belum pernah menemukan anak seperti itu. Dia masih kecil kan waktu itu? Tapi sudah mikirin surga.. Saya malu bu, saat saya kecil dulu, boro-boro surga, yang saya tau cuma Barbie.. Subhanallah bu.. Pasti dia bahagia ya di surga sana..
B : Iya ajeng, Allah sayang sama dia, makanya Allah mengabulkan permintaannya. Dia dipanggil saat masih kecil, belum berdosa, Insya Allah keinginannya masuk surga terkabulkan. Bayangkan bila dia ada disini bersama kalian, sudah baligh, belum tentu dia sepenuhnya terhindar dari dosa kan?
A : Iya bu. Aku mau kayak dia.. Aku mau ketemu dia.. Aku pasti berdoa untuk dia..
Satu pelajaran hari itu, bagaimana seorang anak kecil memikirkan tentang surga.. Bagaimana dirinya membuat perubahan pada diriku.. Terima kasih Sarah.. Aku belum sempat mengenalmu di dunia ini, tapi... Semoga kita bisa bertemu di surga nanti ya :))
"Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang
paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari
kejauhan – seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang
dan dataran."
*Kahlil Gibran*
No comments:
Post a Comment