Sunday, November 18, 2012
Palestine tomorrow will be free :"
*Every day we tell each other* *That this day will be the last* *And tomorrow we all can go home free* *And all this will finally end* *Palestine tomorrow will be free* *Palestine tomorrow will be free*
Gaza, 11 November 2012
Hari ini aku, Ummi, Abi, dan adikku Zayd makan malam bersama. Kami makan malam sambil melihat berita di televisi, bahwa Amerika kembali menginvasi sejumlah bagian di Gaza. Aku takut. Aku takut kehilangan lagi. Sudah 5 bulan berlalu sejak aku kehilangan Rasyd dan Maryam, dua kakakku yang sangat aku sayangi, saat Amerika melakukan penyerangan di sebuah pasar dekat perbatasan Palestina.
"Najwa, kemari sayang. Jangan takut. Kita akan baik-baik saja." Ummi memelukku yang bergidik mendengar berita di televisi.
"Tapi Mi, lihat itu. Mereka jahat sekali. Mereka mengambil semua yang kita sayangi. Mereka merenggut kebahagiaan kita." Airmataku tak terbendung, butir cinta ini mengalir lembut membasahi pipiku.
"Sayang, sungguh kebahagiaan di dunia ini hanyalah semu belaka. Kamu tau, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah surga. Kita tidak boleh takut pada mereka, ataupun pada kematian. Kematian hanyalah proses yang mempercepat pertemuan kita dengan Allah, Nak. Ummi berjanji, kelak kita akan kembali bertemu di surga. Abi, Ummi, Rasyd, Maryam, Najwa, Zayd... Bukankah kita keluarga yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya? Bukankah kita adalah pejuang Allah?" Kata Ummi sambil mengelus kepalaku.
"Iya Ummi." Ucapku pelan.
Mataku menjelajah, melihat Zayd yang duduk di kursi bayinya. Umur adikku ini baru 4 tahun, tapi pahitnya hidup telah ia rasakan. Zayd harus di amputasi kaki kirinya karena serangan yang menewaskan kedua kakakku itu. Beruntung nyawa Zayd masih dapat ditolong.
"Anakku, sungguh kelak kau akan tumbuh menjadi wanita tangguh yang mampu membebaskan Palestina, kelak kau akan ikut berpartisipasi dalam tegaknya agama Allah di muka bumi ini. Ingat Nak, sekalipun Ummi dan Abi tak mampu lagi memelukmu, ingatlah Allah yang selalu ada di dekatmu. Kelak bidadari surga pun akan iri padamu.." Abi mengusap pipiku, dan senyum kecil mengembang di bibirku.
*No mother no father to wipe away my tears* *That’s why I won’t cry* *I feel scared but I won’t show my fears* *I keep my head high* *Deep in my heart I never have any doubt* *That Palestine tomorrow will be free* *Palestine tomorrow will be free*
Gaza, 15 November 2012
Aku sedang membantu Ummi mencuci piring di dapur. Abi dan Zayd sedang bermain di ruang keluarga. Tawa renyah menghiasi setiap sudut rumah mungil kami, kehangatan dan kasih sayang menjalari nadi kami. Tak pernah terpikirkan bahwa kebahagiaan ini akan lenyap untuk selamanya.
Tapi itu menjadi kenyataan dan bukan lagi terpikirkan.
*I saw those rockets and bombs shining in the sky* *Like drops of rain in the sun’s light* *Taking away everyone dear to my heart* *Destroying my dreams in a blink of an eye* *What happened to our human rights?* *What happened to the sanctity of life?* *And all those other lies?*
Bom itu menghantam sisi rumah kami, membuat rumah mungil kami itu berguncang dan reruntuhan bangunan mulai menghujani kami. Abi berteriak memanggil aku dan Ummi, dan bisa kurasakan jari-jari Ummi mencengkeram kuat lenganku. Zayd menangis kencang, menyayat hati semua yang medengarnya. Aku berteriak, meminta pertolongan. Aku takut. Aku takut sekali. Allah, aku mohon jangan lagi Kau ambil mereka yang aku cintai.
Bongkahan kayu dari atap terjatuh dan menghantam kepala Ummi. Darah segar mengalir dari dahinya. Ummi pun ambruk. Teriakanku semakin menjadi-jadi, diselingi airmata yang deras mengalir dan hujan reruntuhan ini. Nafas Ummi yang memendek membisikkan satu kata.
"Lari.." Hanya itu yang dapat aku dengar.
"Lari, Nak. Selamatkan ummat ini." Ummi kembali berbisik, nafasnya memburu, seolah malaikat Izroil sudah berdiri disampingnya. Ummi tersenyum, mendorong lemah tubuh kecilku untuk menyelamatkan diri. Aku melihat Ummi untuk yang terakhir kalinya, tersenyum singkat padanya, dan berlari. Airmataku membuat kabur penglihatanku, tapi aku tidak boleh menyerah. Siapa yang akan menyelamatkan ummat ini bila aku mati disini? Aku tidak boleh menyerah!
Selamatlah aku dari reruntuhan rumah mungilku. Bersimpuh aku bersimbah peluh dan airmata, bajuku terkoyak disana-sini, lenganku terluka. Perih.. Tapi tidak sebanding perih ini dengan luka di peperangan yang sesungguhnya.
Tangisan Zayd tak dapat ku dengar lagi, teriakan Abi tak bisa ku indera lagi, suara lembut Ummi tak bisa menenangkanku lagi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.. Allah, Kau panggil lagi mereka yang aku cintai. Entah kapan giliranku, aku tak pernah tau...
*I know that I’m only a child* *But is your conscience still alive* *I will caress with my bare hands* *Every precious grain of sand* *Every stone and every tree* *‘Cause no matter what they do* *They can never hurt you* *Cause your soul will always be free* *Palestine tomorrow will be free* *Palestine tomorrow will be free*
Gaza, 18 November 2012
Wahai ummat Islam, dimanakah kalian? Belum bangunkah kalian dari tidur panjang kalian? Belum sadarkah kalian dari koma yang membelenggu kalian? Belum sembuhkah kalian dari kebutaan kalian?
Lihat kami disini, para mujahid dan mujahidah kecil, berjuang berjihad di jalan Allah, membela tanah kami, membela tanah ummat muslim, berjuang dan bertahan hidup, saling melindungi satu sama lain. Tangan-tangan kecil kami melempari tank-tank baja itu dengan kerikil, jari-jari kami menggenggam batu yang terkadang melebihi ukuran tangan kami, bibir-bibir mungil kami tak henti melafadzkan asma-asma Allah, mencari kesyahidan.
Lihat kami disini, para pemuda yang tak kenal lelah, para pemuda yang tak kenal kata malas, para pemuda yang tak sempat bersenang-senang dengan masa mudanya, menghamburkan uang mencari bahagia yang fana. Lihatlah kami, para pemuda pemberani tentara Allah.
Lihat kami disini, para dewasa yang tak pernah istirahat, dengan kematangan otak dan proses berfikir melahirkan strategi baru dalam perjuangan ini, berbagai ide telah dituangkan, tak pernah sedikitpun mengucapkan kata menyerah.
Lihat kami disini, para tua renta yang dengan sisa tenaga ini berjuang membebaskan tanah ini, berjuang untuk agama Allah, berjuang untuk kematian yang syahid, berjuang dengan umur yang tak lama lagi.
Lihatlah kami disini. Para pejuang Allah. Bukan belas kasihan yang kami harapkan, melainkan perjuangan kalian, wahai ummat muslim! Bangun! Kami butuh raga kalian untuk membantu kami, retorika kalian untuk berdiploma membebaskan kami, kecerdasan kalian untuk menyusun strategi menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Kami butuh kalian untuk bersama-sama berjuang dibawah lafadz Laa ilaaha illa Allah, Muhammadur rasulullah..
Wahai ummat muslim, dimanakah kalian?
Bogor, 18 November 2012
Dipersembahkan bagi mereka yang syahid dan telah berjuang di bawah naungan asma Allah
Semoga Allah mengampuni dan menerima segala amal shalih mereka
Lewat tulisan ini aku ingin berbagi, lewat tulisan ini aku ingin membangkitkan, lewat tulisan ini aku ingin memotivasi, lewat tulisan ini aku ingin menggugah
Baru ini yang bisa aku persembahkan. Kelak, ditanganku masa depan dunia ini akan berubah. Ditangan kita lah agama Allah akan kembali menyinari dunia ini
Semoga Allah memudahkan langkah kita. Aaamiinn..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment